Ranah Auto – TKDN Mobil Listrik Toyota memasuki tahap baru seiring perubahan aturan pemerintah. Saat ini, Toyota-Astra Motor mulai mempelajari peluang untuk menambah penggunaan komponen lokal. Langkah tersebut penting karena batas minimal TKDN kendaraan listrik akan naik. Pada periode 2022–2026, batasnya masih berada di angka 40 persen. Namun, mulai 2027, pemerintah menetapkan target minimal sebesar 60 persen. Toyota pun perlu menyiapkan strategi sebelum aturan baru berlaku. Selain itu, perusahaan harus melihat kesiapan pemasok lokal untuk mendukung produksi. Toyota bZ4X yang dirakit secara CKD di Indonesia sudah memenuhi ketentuan saat ini. Meski demikian, mengejar angka 60 persen membutuhkan usaha yang lebih luas. Prosesnya tidak hanya berkaitan dengan perakitan kendaraan. Sebaliknya, Toyota perlu meningkatkan penggunaan komponen yang dibuat atau bersumber dari Indonesia. Langkah ini sekaligus dapat membuka peluang baru bagi industri komponen otomotif nasional.
Aturan Pemerintah Membuat Target Terus Bertambah
Pemerintah telah menetapkan tahapan TKDN untuk mendorong industri kendaraan listrik nasional. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, batas minimalnya mencapai 40 persen pada 2022–2026. Selanjutnya, target tersebut meningkat menjadi 60 persen untuk periode 2027–2029. Angkanya kemudian kembali naik menjadi 80 persen mulai 2030. Dengan demikian, produsen kendaraan memiliki arah yang jelas untuk meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri. Toyota menyatakan akan berusaha mengikuti aturan tersebut. Sebelumnya, perusahaan juga mengikuti kebijakan pemerintah untuk kendaraan hybrid dan LCGC. Akan tetapi, cara menghitung TKDN setiap jenis kendaraan dapat berbeda. Perbedaan itu membuat Toyota harus mempelajari setiap aturan dengan teliti. Oleh karena itu, studi menjadi langkah penting sebelum perusahaan menentukan strategi berikutnya. Toyota juga perlu melihat kesiapan produksi dan pemasok. Pada saat yang sama, biaya serta jumlah produksi harus tetap diperhitungkan agar proses lokalisasi dapat berjalan secara sehat.
Baca Juga : Mobil Diesel Terlaris 2026, Innova Reborn Masih Dominan
bZ4X Lokal Menjadi Modal Penting bagi Toyota
Produksi lokal Toyota bZ4X memberikan pengalaman penting bagi perusahaan dalam menghadapi aturan TKDN. Mobil listrik tersebut dirakit menggunakan skema completely knocked down atau CKD di Indonesia. Saat ini, kandungan lokalnya sudah memenuhi batas minimal 40 persen. Karena itu, Toyota memiliki dasar untuk mempersiapkan target yang lebih tinggi. Pengalaman produksi bZ4X juga membantu perusahaan memahami kebutuhan kendaraan listrik secara langsung. Namun, mencapai TKDN 60 persen tentu membutuhkan langkah tambahan. Toyota harus melihat komponen mana yang bisa diproduksi atau diperoleh dari dalam negeri. Kualitas setiap komponen juga perlu dijaga agar tetap sesuai standar. Selain itu, pasokan harus tersedia secara stabil untuk mendukung kegiatan produksi. Kendaraan listrik memiliki beberapa bagian yang berbeda dari mobil bermesin konvensional. Oleh sebab itu, industri pendukung perlu berkembang bersama produsen kendaraan. Jika proses tersebut berjalan baik, bZ4X dapat menjadi pijakan penting untuk memperluas lokalisasi kendaraan listrik Toyota di Indonesia.
Baterai Bisa Memegang Peran dalam Peningkatan TKDN
Baterai menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam pembahasan lokalisasi mobil listrik. Komponen ini memiliki fungsi penting karena menyimpan energi untuk menggerakkan kendaraan. Meski begitu, Toyota belum menjelaskan komponen mana yang akan dibuat lebih lokal. Perusahaan masih melakukan studi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Karena itu, rencana merakit atau memproduksi lebih banyak bagian baterai di Indonesia belum dapat dianggap pasti. Namun, pengembangan industri baterai tetap memiliki peluang besar dalam ekosistem kendaraan listrik nasional. Selain itu, Indonesia memiliki kepentingan untuk memperluas nilai tambah dari industri kendaraan listrik. Keterlibatan pemasok lokal dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Di sisi lain, produksi komponen membutuhkan teknologi dan investasi yang tidak sedikit. Standar kualitas juga harus dijaga secara konsisten. Dengan demikian, peningkatan TKDN perlu dilakukan secara bertahap. Toyota harus menyesuaikan kebutuhan produksi dengan kemampuan industri lokal agar target baru dapat tercapai tanpa mengurangi kualitas kendaraan.
Baca Juga : GWM Wey G9 Hi4 Resmi Hadir, Kabin Mewah Jadi Andalan
Target 60 Persen Membuka Peluang bagi Pemasok Lokal
Kenaikan target TKDN dapat membuka peluang lebih besar bagi perusahaan komponen di Indonesia. Produsen kendaraan akan membutuhkan lebih banyak bagian yang berasal dari dalam negeri. Akibatnya, pemasok lokal berpeluang masuk lebih jauh ke dalam rantai produksi mobil listrik. Kesempatan tersebut juga dapat mendorong peningkatan kemampuan manufaktur nasional. Namun, peluang besar selalu datang bersama tantangan. Industri komponen harus mampu memenuhi standar kualitas, keamanan, dan ketahanan yang ditetapkan produsen. Mereka juga perlu menjaga pasokan agar produksi kendaraan tidak terganggu. Selain itu, penggunaan teknologi baru membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai. Kerja sama antara produsen dan pemasok dapat membantu proses tersebut. Sebagai hasilnya, pengetahuan dan pengalaman produksi dapat berkembang lebih cepat. Dampaknya bahkan bisa meluas ke sektor logistik dan tenaga kerja. Oleh karena itu, target TKDN tidak hanya menjadi kewajiban bagi produsen. Kebijakan tersebut juga dapat mendorong pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik Indonesia.
Toyota Tetap Perlu Menjaga Kualitas Kendaraan
Mengejar TKDN yang lebih tinggi bukan sekadar memenuhi angka dalam aturan pemerintah. Toyota tetap perlu memastikan kualitas setiap kendaraan yang keluar dari pabrik. Karena itu, pemilihan pemasok lokal membutuhkan proses yang teliti. Komponen harus memenuhi standar keamanan dan ketahanan sebelum digunakan dalam produksi. Selain itu, harga juga menjadi faktor penting dalam proses lokalisasi. Produksi dalam negeri dapat mengurangi beberapa kebutuhan logistik jika rantai pasok sudah berkembang. Namun, pembangunan fasilitas dan teknologi baru membutuhkan investasi besar pada tahap awal. Jumlah kendaraan yang diproduksi juga akan memengaruhi tingkat efisiensi. Semakin besar skala produksi, peluang menekan biaya biasanya ikut meningkat. Meski begitu, kualitas tidak boleh dikorbankan hanya untuk mengejar kandungan lokal. Oleh sebab itu, Toyota perlu mencari keseimbangan antara aturan, biaya, kualitas, dan kesiapan pemasok. Pendekatan tersebut penting agar peningkatan TKDN tetap memberikan manfaat bagi konsumen dan industri otomotif nasional.
Target 80 Persen Membutuhkan Persiapan dari Sekarang
Target TKDN 60 persen bukan tahap terakhir dalam kebijakan kendaraan listrik Indonesia. Mulai 2030, pemerintah menetapkan batas minimal sebesar 80 persen. Dengan demikian, produsen perlu melihat lokalisasi sebagai rencana jangka panjang. Studi yang dilakukan Toyota sekarang dapat menjadi dasar untuk menghadapi perubahan berikutnya. Perusahaan perlu memetakan komponen yang dapat diproduksi di dalam negeri secara bertahap. Sementara itu, pemasok lokal memiliki waktu untuk meningkatkan kemampuan produksi dan kualitas. Tenaga kerja juga perlu berkembang agar mampu mengikuti teknologi kendaraan listrik. Selain itu, kerja sama antara pemerintah, produsen, dan industri pendukung akan memainkan peran penting. Target yang tinggi tentu membawa tantangan, tetapi peluang ekonominya juga semakin besar. Jika rantai pasok lokal tumbuh dengan baik, Indonesia dapat memperoleh nilai tambah lebih besar dari produksi kendaraan listrik. Pada akhirnya, peningkatan TKDN bukan hanya tentang memenuhi regulasi. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari pembangunan industri otomotif Indonesia untuk masa depan.
